BELANJA


Misteri Makam Cheng Ho

M. Naufal Hafiz


Arca Laksamana Cheng Ho di 
depan Gerbang Kelenteng Simongan Semarang. (Djoko Subinarto)

Hingga sekarang keberadaan makam Cheng Ho masih menjadi misteri sekaligus tantangan bagi para ahli sejarah dan ahli ketionghoaan (sinologi) untuk memastikannya.

Cheng Ho--atau disebut juga Zheng He dalam bahasa Pu Thong Hua--bernama asli Ma Ho. Ia lahir dari keluarga muslim keturunan Mongol-Arab. Cheng Ho lahir tahun 1371 di Hedai, Kunyang, Yunnan, Tiongkok Selatan. Orang tuanya berimigrasi ke Tiongkok di masa Dinasti Tang dan Dinasti Song berkuasa (618-1279). Waktu masih kecil, Ma Ho diberi nama julukan San Bao atau Sida San Bao. Nama ini diberikan lantaran ia merupakan anak lelaki ketiga di keluarganya. Dalam bahasa Pu Thong Hua, san berarti tiga.

Menurut pakar sejarah Tiongkok dari Akademi Sains Tiongkok, Profesor Zheng Yijun, Raja Zhu dari Dinasti Ming yang memberi nama marga Cheng di depan nama Ho sebagai bentuk penghargaan kepada Ma Ho yang menjadi salah seorang pegawai kerajaan di dinasti itu. Waktu itu jabatan Ma Ho adalah laksamana urusan Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Secara resmi, nama Cheng Ho disandangnya sejak tahun 1403, tatkala Raja Zhu mengangkat Ma Ho sebagai ketua armada Tiongkok yang akan melakukan pelayaran ke berbagai kawasan di Asia dan Afrika.

Berdasarkan catatan ensiklopedia online, Wikipedia, Cheng Ho pernah memimpin sedikitnya tujuh ekspedisi ke tempat yang disebut oleh orang Tionghoa sebagai Samudera Barat (Samudera Indonesia). Eskpedisinya melibatkan 200 buah kapal dan lebih dari 27.800 anak kapal. Mereka bertolak dari pelabuhan Liu Jia, Taicang, Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Dalam kurun waktu 28 tahun, armada Laksamana Cheng Ho berhasil mengunjungi lebih dari 30 buah negara. Negara yang yang paling jauh dikunjungi Cheng Ho adalah Kenya di Afrika Timur.


Ada yang mengatakan, misi utama dari pelayaran Laksamana Cheng Ho adalah menjalin persahabatan dan kemanusiaan dengan bangsa lain di luar kekaisaran Ming. Ini sejalan dengan kebijakan Kaisar Yung Lo yang menggariskan politik pintu terbuka dalam diplomasi internasional dan pada saat yang sama memelihara perdamaian serta kemakmuran dalam negeri.

Mengutip buku karya Slamet Muljana bertajuk “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”, SU Herdjoko (2005) menulis bahwa Cheng Ho berangkat dari Tiongkok pada tahun 1405 dan baru singgah di Semarang pada tahun 1413. Saat itu, begitu tulis Herdjoko, Cheng Ho didampingi penerjemah Ma Huan dan pencatat perjalanan Feh Tsin dan sempat tinggal di Semarang selama satu bulan.

Tahun 1405 itulah yang kemudian dijadikan patokan mulainya ekspedisi Cheng Ho yang monumental dan diyakini sebagai salah satu penyebar agama Islam di Semarang dan Pantai Utara Jawa sebelum masa para wali.

Di Kota Semarang, persisnya di daerah pesisir barat Semarang, Cheng Ho membangun sebuah tempat peristirahatan yang sekarang dikenal sebagai Kelenteng Sam Po Kong atau Kelenteng Gedung Batu. Disebut Gedung Batu karena bangunan utama kelenteng yang terletak di Jalan Simogan Semarang ini merupakan sebuah gua batu.

Hingga kini masih terdapat kontrovesi seputar kapan dan di mana tempat meninggalnya Laksamana Cheng Ho. Para ahli pun masih berbeda pandangan tentang ini sehingga kisah meninggalnya Cheng Ho menimbulkan beberapa versi.

Ada versi yang menyebutkan bahwa Cheng Ho meninggal saat dalam perjalanan selepas meninggalkan Pulau Jawa. Saat itu, tatkala armada yang dipimpinnya melintasi kawasan Aden, sekitar Teluk Persia, Cheng Ho menderita sakit parah dan mengembuskan napas terakhirnya di sana. Jenazahnya kemudian diceburkan ke laut.

Beberapa kalangan menyakini bahwa Cheng Ho meninggal dunia di India, sekitar awal April tahun 1433 Masehi. Karena kondisi yang tidak memungkinkan, jenazahnya waktu itu tidak dibawa ke Tiongkok melainkan dikebumikan di sebuah tempat di India.

Meski demikian, beberapa literatur lawas Tiongkok menyebutkan bahwa Cheng Ho meninggal dunia di sebuah bukit bernama Niu Shou di Nanjing, Tiongkok, tidak lama setelah ia menyelesaikan ekspedisinya. Di bukit Niu Shou memang ada sebuah makam yang hingga kini dipercayai sebagai tempat Cheng Ho dikebumikan. Selain itu, ditempat tersebut dibangun pula sebuah museum yang berkaitan dengan Cheng Ho.

Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa yang dimakamkan di bukit Niu Shou itu bukanlah jasad Cheng Ho, melainkan hanya baju dan beberapa barang milik Cheng Ho.

Lantas, di manakah sebenarnya Cheng Ho dikebumikan? Tentu saja, ini merupakan tantangan bagi para ahli sejarah maupun para ahli ketionghoaan untuk memastikannya.

Djoko Subinarto

sumber : Misteri Makam Cheng Ho

Komentar